Sunday, June 12, 2016

PUASA DAN AL- QURAN PERANTARA PEMBERI SYAFA'AT


Di dalam sebuah hadits dinyatakan:

Artinya : "Puasa dan Qur'an itu memintakan syafa'at untuk seseorang di hari Kiamat nanti. Puasa berkata : Wahai Tuhanku, aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya
di siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa'at baginya. Dan berkata pula Al-Qur'an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memintakan syafaat." (H.R. Ahmad dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu 'Anhu).

Disebutkan bahwa Puasa dan Al-Quran dan menjadi syafaat bagi mereka yang mengamalkan kedua ibadah tersebut dalam hidupnya. Terlebih lagi pada bulan suci Ramadhan ini.

Syafaat secara bahasa berasal dari kata asy-sayafa' (ganda) yang merupakan lawan kata dari al-witru (tunggal), yaitu menjadikan sesuatu yang tunggal menjadi ganda, seperti membagi satu menjadi dua, tiga menjadi empat, dan sebagainya. Sedangkan secara istilah, syafaat berarti menjadi penengah bagi orang lain dengan memberikan manfaat kepadanya atau menolak madharat, yakni pemberi syafaat itu memberikan manfaat kepada orang yang diberi syafaat atau menolak madharat untuknya.

Jadi, ibadah Puasa Ramadhan dan bertadarus Al-Quran dapat menjadi amalan utama yang dapat mengantarkan pelakunya untuk mendapatkan pertolongan dari Allah kelak pada hari akhirat.

Ini dikarenakan dengan ibadah Puasa, seseorang telah mencegah dari memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari. Sehingga dengan puasanya itu yang tentu dikerjakan dengan iman semata mengharap ridha Allah, dapat menjadi penyeab syafa'at (pertolongan) baginya.

Demikian halnya membaca Al-Quran, yang menyebabkannya mencegah seseorang dari tidur di malam hari, untuk membaca Al-Quran, atau waktunya lebih banyak tersita dengan Al-Quran. Maka amalan bertadarus Al-Quran itu pulalah yang dapat mengantarkannya memperoleh syafa'at (pertolongan) dari Allah.

Terlebih membaca Al-Quran pada bulan Al-Quran Ramadhan, merupakan amaliah utama.

Imam Hassan Al-Banna pernah memberikan petuah untuk para aktivis dakwah dalam kalimat, "Pesanku kepada kalian wahai saudara-saudara, hendaklah senantiasa menghubungkan diri kalian dengan Al-Qur'an pada setiap detik dan masa. Andaikata saudara melakukan sedemikian, niscaya saudara akan merasa betapa agungnya Pencipta yang Maha Tinggi itu. Sebenarnya siapa yang berbuat demikian tidak dapat tidak akan bertambah keimanan terhadap keagungan Pencipta, lalu bertambah lagi ketundukannya kepada kekuasaan-Nya".

Begitulah, sehingga Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam pun menjanjikannya dengan sabdanya:

Artinya: "Bacalah Al-Qur'an karena ia akan datang pada hari akhirat kelak sebagai pemberi syafa'at kepada tuannya."(H.R. Muslim).

Ini pula yang membedakan membaca Al-Quran walau belum mengetahui maknanya, akan mendapatkan pahala dari setiap huruf yang diucapkannya.

Seperti disebutkan di dalam hadist :

Artinya : "Pelajarilah Al-Quran ini, karena sesungguhnya kalian akan diberi pahala dengan membacanya setiap hurufnya sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan itu untuk ???... , akan tetapi untuk untuk Alif, Laam, Miim, setiap hurufnya sepuluh kebaikan." (Riwayat Ad-Darimy).

Karena itulah, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan keadaan setiap penghuni rumah tangga Muslim agar menghiasi rumahnya dengan alunan ayat-ayat suci Al-Quran. Sebab, rumah yang di dalamnya tidak dibacakan ayat-ayat Al-Quran akan banyak keburukan perilaku, kegersangan jiwa, dan kesempitan pandangan kehidupan.

Apalagi pada bulan suci Ramadhan. Kita dianjurkan memperbanyakkan bacaan Al-Quran di dalamnya karena ia adalah bulan Al-Quran.

Bahkan, Malaikat Jibril senantiasa bertadarus Al-Quran dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam setiap hari sepanjang Ramadhan. Paling tidak kita satu hari satu juz, sehingga satu bulan khatam Al-Quran sekali dalam satu bulan Ramadhan ini. Aamin.

Post Comment

No comments:

Post a Comment